Jakarta, kpu.go.id – Hari kedua Orientasi Tugas Anggota KPU Kabupaten/Kota periode 2018-2023 gelombang IV kembali berlanjut dengan pemberian materi dengan metode Building Resources In Democracy, Government and Election (Bridge) melalui kelas-kelas kecil.
 
Dipandu fasilitator yang expert di bidang kepemiluan, peserta yang telah dibagi ke dalam lima kelas kemudian diberikan sejumlah materi. Salah satunya terkait pentingnya pemahaman etika penyelenggara pemilu.
 
“Ada dua cabang besar dalam etika penyelenggara pemilu yang pertama integritas dan yang kedua profesionalitas. Nanti dari integritas akan muncul nilai yang terdiri dari mandiri, jujur, adil dan akuntabel,” papar Fasilitator kelas B yang juga mantan Komisioner KPU Provinsi Sumatera Barat, Muhammad Mufti Syarfie di Jakarta, Kamis (1/11/2018).
 
Sedangkan Profesionalitas terdiri dari nilai aksesibilitas, tertib, terbuka, proporsional, profesional, efektif, efisien, kepentingan umum, dan berkepastian hukum.
 
“Ada satu nilai yang istimewa dan hanya ada di Undang-undang pemilu yaitu nilai aksesibilitas, itu hanya ada di KPU. Karena ada upaya afirmasi kepada kelompok yang berkemampuan khusus dalam penyelengagraan pemilu,” sambung Mufti.
 
Selain mendapat pemahaman tentang etika penyelenggara pemilu, melalui sesi kelas ini peserta juga diberikan pemahaman terkait dengan nilai dan prinsip pemilu bebas dan adil; gender dan disabilitas dalam penyelenggaraan pemilu; sistem pemilu di Indonesia serta tahapan pemilu dan perencanaan strategis. 
 
Secara umum kegiatan pembekalan kelas berlangsung dengan suasana yang hidup, nampak dari antusiasme peserta memecahkan persoalan-persoalan yang diberikan baik individu maupun secara berkelompok. (hupmas kpu Bil/foto Ieam/ed diR)